MAGETAN – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Partisipatoris (KKNP) Kelompok 08 Sekolah Tinggi Agama Islam Ma’arif (STAIM) Magetan menghadirkan nuansa dakwah inklusif dalam kegiatan Pengajian Sabtu Legi yang digelar di Masjid Al Khoiri, Robahan, Balegondo, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan, Sabtu (24/01/2026).
Kegiatan yang diikuti masyarakat umum serta jamaah difabel tuna rungu ini menjadi ruang kebersamaan tanpa sekat, sekaligus wujud kepedulian mahasiswa KKNP terhadap akses keagamaan yang ramah bagi semua kalangan. Pengajian tersebut dirangkaikan dengan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah dan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
Acara dimulai sejak pukul 17.30 WIB dengan salat Maghrib berjamaah, dilanjutkan rangkaian pengajian hingga salat Isya. Kehadiran jamaah difabel menjadi perhatian tersendiri, di mana mahasiswa KKNP tampak aktif mendampingi dan membantu mereka selama kegiatan berlangsung.

Koordinator Lapangan Pengajian Sabtu Legi, Nur Hidayat, menjelaskan bahwa keterlibatan jamaah difabel merupakan bagian dari komitmen dakwah yang inklusif. Harapanya masjid dapat menjadi rumah bersama yang bisa diakses siapa pun, termasuk saudara-saudara dari komunitas difabel. ”Tujuan utama kami adalah mengaktifkan dakwah di tengah masyarakat, sekaligus mengajak warga untuk lebih dekat dengan masjid. Pengajian rutin 35 hari sekali ini menjadi jembatan untuk meningkatkan kesejahteraan spiritual jemaah serta memakmurkan masjid.” ujarnya.
Ketua Panitia, Riyan Hariyana, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai bentuk pengabdian mahasiswa sekaligus sarana mempererat silaturahmi antar warga. “Kami bersyukur antusiasme jamaah sangat tinggi. Kehadiran kawan-kawan difabel memberi pelajaran berharga tentang makna kebersamaan dan kesetaraan dalam beribadah,” ungkapnya.
Pengajian menghadirkan Dr. Utsman Hanafi sebagai penceramah utama. Dalam tausiyahnya, ia menekankan pentingnya memahami makna doa dan keberkahan menjelang Ramadhan, serta menegaskan bahwa Islam adalah agama yang menjunjung nilai kasih sayang dan keterbukaan.
“Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Ilmu dan hidayah Allah terbuka bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh mencarinya, tanpa melihat keterbatasan fisik,” tuturnya di hadapan jamaah.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan sesi foto antara mahasiswa KKNP, tokoh masyarakat, serta jamaah difabel. Kebersamaan tersebut menjadi simbol bahwa dakwah dan pendidikan spiritual dapat tumbuh dalam suasana inklusif dan saling menghargai.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKNP STAIM Magetan berharap semangat dakwah ramah difabel dapat terus berkembang, sekaligus memperkuat peran masjid sebagai pusat ibadah, pembelajaran, dan persaudaraan bagi seluruh lapisan masyarakat.